Minggu, 23 November 2014
cerita tokoh pahlawan indonesia
cerita tokoh pahlawan indonesia
*cerita tentang bung hatta
Salah satu proklamator kita,
Bung Hatta, jika beliau masih hidup, tanggal 12 Agustus 2008 ini akan memasuki
usia 106 tahun. Berprinsip Teguh Dua kali
kejadian dimana terjadi pertentangan antara bung Hatta dan bung Karno yg
ternyata memberi dampak sangat besar terhadap perjalanan bangsa ini, dimana
dalam kedua hal tsb bung Hatta memilih utk mengalah. Saat mundurnya bung Hatta
desember 1956 , karena tak setuju dengan cara bung Karno memimpin negara ,
serta perdebatan mereka sebelumnya saat Indonesia belum merdeka. Sebelumya
dalam buku sejarah ada dinyatakan bahwa belia berdua pernah berbeda pendapat
mengenai bagaimana bangsa ini hendak dibangun, bagaimana kemerdekaan hendak
diraih, beberapa tahun sebelum indonesia merdeka. Bung Karno bilang kita perlu
bangsa yang berani, revolusioner, penuh semangat utk meraih kemerdekaan,
sedangkan bung Hatta berpendapat bahwa kita perlu mencerdaskan, memberi pencerahan
pada bangsa Indonesia utk menyongsong kemerdekaan nya, intinya bung Hatta
menyatakan pentingnya pendidikan. Namun saat itu, bung Karno tetap bersikukuh
dengan pendapatnya, dan dengan gentleman nya , bung Hatta pun mengalah ....
Bukti sejarah kemudian menyatakan , bahwa apa yg dinyatakan bung Hatta benar
adanya , memang benar pada masa kemerdekaan th 45, bangsa yg bersemangat
tinggi, revolusioner bisa meraih kemerdekaan, tapi untuk selanjutnya mereka
melupakan pendidikan / pencerdasan. Dari sejarah kita belajar, ada 2 ide besar
bung Hatta yg tak terwujud, karena ia mengalah pada bung Karno , dan sampai
saat ini kemajuan bangsa ini masih terbelenggu karena 2 hal tsb (pendidikan yg
kurang dan demokrasi yg kurang baik ) Berkarya Nyata Bung Hatta merupakan tokoh
yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya monumental beliau adalah bentuk
koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang
akhirnya sukses sampai saat ini. Koperasi
tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik dan memberi mereka
kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor. Karya-karya lainnya adalah
berbentuk tulisan. Dalam pembuangan pun, Hatta secara teratur menulis
artikel-artikel untuk surat kabar. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah
Merah (Digoel-Papua) dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di
Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16
peti.
*cerita tentang ir.soekarno
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi IT. Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.
*cerita tentang soedirman
SOEDIRMAN,
salah seorang pahlawan nasional dan simbol Tentara Nasional Indonesia (TNI)
bukanlah nama yang asing di telinga. Ia mendapat tempat istimewa dalam sejarah
perjuangan kemerdekaan Indonesia karena menjabat panglima angkatan bersenjata
pada awal berdirinya republik ini. Namun, pengetahuan tentang Soedirman yang
diberikan bangku sekolah tidak pernah cukup mendalam. Sementara ketersediaan
literatur yang membahas Soedirman secara khusus jumlahnya tidak memadai.
Dalam
kurun waktu 25 tahun pertama pascakemerdekaan, tercatat hanya ada satu buku
saja yang menempatkan Soedirman sebagai pokok bahasan, yaitu "Djenderal
Soedirman Pahlawan Kemerdekaan" (1963) yang ditulis Solichin Salam.
Selebihnya pembahasan tentang Soedirman selalu hanya merupakan pelengkap bagi
kerangka bahasan lain seperti tentang gerakan Pemuda Muhammadiyah, kepanduan
Hizbul Wathan, perang revolusi kemerdekaan, tentara, politik militer, hingga
tentang Tan Malaka.
Baru
sekitar tahun 1980-an mulai bermunculan buku yang membahas Soedirman secara
lebih spesifik, seperti "Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman"
karya SA Soekanto (1981), "Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin
Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia, Kisah Seorang Pengawal" (1992)
yang ditulis Tjokropranolo, mantan Gubernur DKI Tahun 1977-1982, atau
"Panglima Besar Jenderal Sudirman Kader Muhammadiyah" (2000) karya
Sardiman AM. Meskipun cukup banyak kuantitasnya, namun sebagian besar buku yang
hadir tersebut cenderung mengaitkan tokoh ini dengan dunia ketentaraan dan lebih
berupa memoar atau biografi Soedirman sebagai seorang tokoh.
Sedikit
saja buku seperti "Genesis of Power General Sudirman and the Indonesian
Military in Politics 1945-49" (1992) yang ditulis Salim Said, yang
mengupas sikap dan pandangan politik Soedirman secara lebih mendalam, baik
menyangkut penentangan Soedirman terhadap langkah politik pemerintah yang
menjalin kerja sama dengan Belanda, tentang langkah-langkah politis yang
diambil Soedirman dalam rangka mengedepankan sikap politiknya, dan keterkaitan
Soedirman dengan Peristiwa 3 Juli 1946. Umumnya jika sampai pada pembahasan
tentang hal tersebut, penulis-penulis cenderung "melindungi"
keterlibatan Soedirman dalam peristiwa yang diyakini sebagai upaya coup d' ètat
dan "membersihkan" kecenderungan ideologi kiri Soedirman dengan
berbagai alasan.
Fakta
sejarah tersebut memang rawan dibicarakan ketika rezim yang berkuasa bersandar
pada kekuatan militer yang mengangkat Soedirman sebagai panglima besarnya. Tak
ayal lagi, ketika buku yang menganalisis Peristiwa 3 Juli 1946 terbit,
pemerintah Orde Baru langsung membelenggu peredarannya lewat daftar cekal
Kejaksaan Agung (Kejagung). "Tingkah Laku Politik Panglima Besar
Soedirman", buku yang mengangkat Peristiwa 3 Juli 1946 sebagai fokus
bahasan, memaparkan pergolakan internal para elite politik Indonesia pada awal
kemerdekaan dengan titik berat telaah pada pandangan dan sikap politik yang
diambil Soedirman selaku panglima besar dalam menanggapi berbagai situasi
politik yang berkembang saat itu.
Panglima
Besar Soedirman" merupakan kumpulan beberapa tulisan, di antaranya tulisan
dua pelaku sejarah bangsa ini yaitu Abdul Haris Nasution dari kalangan militer
dan Roeslan Abdulgani yang mewakili unsur sipil yang turut berjuang dalam
perang kemerdekaan. Selain itu, termaktub pula analisis terhadap Peristiwa 3
Juli 1946 dari SI Poeradisastra, sejarawan dan Guru Besar UI, dan rangkuman
dari Sides Sudyarto DS, pemenang sayembara puisi Prasasti Ancol tahun 1977 dan
mantan wartawan yang pernah bergabung di Kompas tahun 1974-1981.
Buku
yang pertama kali dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dan diluncurkan sekitar awal
tahun 1984, ini tamat riwayat peredarannya di masyarakat kurang lebih enam
bulan kemudian, tepatnya tanggal 28 Agustus 1984, setelah diharamkan oleh
Kejaksaan Agung (Kejagung) lewat fatwa No 167/JA/8/1984. Menurut Sides, editor
buku itu yang sempat diinterogasi Kejagung sebanyak sembilan kali, tidak ada
alasan formal yang menjadi landasan pencekalan buku yang bermuatan fakta
sejarah tersebut.
Dalam
"Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman", Nasution menuangkan
pengalaman pribadi sebagai prajurit di lapangan yang langsung menerima perintah
Soedirman. Sebagai seorang bawahan, ia lebih banyak menyoroti kepemimpinan
Soedirman sebagai panglima besar dalam menyikapi berbagai kondisi politik
bangsa dan menghindari pembahasan tentang Peristiwa 3 Juli 1946. Meskipun
begitu, ia mengakui bahwa dirinya berseberangan pendapat dengan Soedirman dalam
persoalan "Reorganisasi-Rasionalisasi" (Re-Ra) tentara yang merupakan
imbas dari Perjanjian Renville tahun 1948.
Dalam
mengulas Soedirman, Abdulgani menempatkan panglima besar tersebut dalam konteks
pertikaian ideologi yang mendominasi kala itu. Meskipun dalam Peristiwa 3 Juli
1946 di Yogyakarta Soedirman dituduh membantu upaya coup d' ètat terhadap duet
Soekarno-Hatta, dengan membebaskan orang-orang dari kelompok Marxisme-Leninisme
independen (Tan Malaka) yang ditahan di Penjara Wirogunan, namun menurut
Abdulgani tekad untuk mempertahankan kemerdekaan dan loyalitas terhadap negara
tetap dipegang teguh Soedirman yang secara historis masuk dalam kelompok
Islamisme, namun bukan aliran yang fanatik dan intoleran. Walaupun sempat
berseberangan pandangan politik dengan pemerintah yang saat itu dikuasai
kelompok Marxisme-Liberalisme moderat (Amir Sjarifuddin dan Sjahrir), Soedirman
tidak memanfaatkan posisi panglima besar yang strategis untuk menggulingkan
pemerintah resmi Soekarno-Hatta.
Poeradisastra
sebagai seorang sejarawan berupaya obyektif dalam melihat fakta Peristiwa 3
Juli 1946. Analisis terhadap rangkaian kejadian, proses sidang di Mahkamah
Agung, kesaksian Soedirman, serta pernyataan dan pembelaan dari para pelaku
yang terlibat dalam peristiwa itu, seperti Iwa Koesoema Soemantri, Ahmad
Soebardjo, dan M Yamin dari kubu Persatuan Perjuangan yang berafiliasi pada Tan
Malaka, melahirkan satu kesimpulan bahwa telah terjadi tawar-menawar antara
Soedirman dengan para anggota Kabinet Sjahrir yang secara coute que coute
membentuk pra-anggapan peristiwa tersebut sebagai suatu coup d' ètat.
Meskipun
Poeradisastra tidak mengingkari keterlibatan Soedirman dalam Peristiwa 3 Juli
1946, namun ia yakin Soedirman melakukan negosiasi tersebut untuk menyelamatkan
keutuhan komando tentara saat itu. Sejarah membuktikan, Soedirman tetap menjaga
manunggalnya tentara dengan pemerintah. Ia mengorbankan hati nuraninya yang
tidak setuju dengan keputusan pemerintah untuk berkompromi dengan Belanda demi
persatuan negara dan membayar beban psikologisnya dengan kesehatan yang kian
hari semakin memburuk.
Upaya
meminta Soekarno mengubah susunan Kabinet Sjahrir dan menerima minimum program
Persatuan Perjuangan 7 pasal yang dikenal dengan Peristiwa 3 Juli 1946, memang
tidak dibahas secara mendalam dalam wacana sejarah Indonesia selama ini.
Padahal, peristiwa tersebut jelas melibatkan Soedirman yang disinyalir
mendukung Persatuan Perjuangan yang berada di bawah komando Tan Malaka.
Kedekatan dan kesamaan visi Soedirman dengan Tan Malaka yang oleh Orde Baru
dituding sebagai komunis mengindikasikan ideologi yang dianut Soedirman.Hal
inilah yang coba ditutupi rezim Orde Baru yang berdiri di atas kekuatan
militer. Bagaimana publik akan bereaksi jika menyadari fakta bahwa Panglima
Besar TNI adalah seorang sosialis! (Nurul Fatchiati)
* cerita tentang ibu kartini
Kartini selama ini kita mengenalnya hanya sebagai seorang
yang memperjuangkan emansipasi wanita dan merupakan pahlawan bagi kaum wanita.
Namun pola pemikiran dari Kartini banyak dari kita yang belum paham. Bukunya
yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan banyak pemikiran dia
mengungkapkan banyak hal mengapa seorang Kartini dikenang sebagai pahlawan bagi
kaum perempuan.
Di abad ke 19, dimana ketika itu sebagian besar masyarakat Indonesia masih buta huruf, Kartini muncul sebagai perempuan yang begitu banyak menorehkan pemikirannya untuk bangsa Indonesia. Pemikirannya tentang peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat, Kegelisahannya tentang agama, dan penolakkannya terhadap budaya feodal tertoreh jelas pada tulisan Kartini dalam surat-suratnya.
Surat-surat Kartini untuk pertama kalinya diterbitkan pada 1911 di Semarang, Surabaya, dan Den Haag atas prakarsa Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr Jacques Henry Abendanon dengan judul Door Duisterni tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Volk van Raden Ajeng Kartini.
Karena berbahasa Belanda, surat-surat itu hanya dibaca kalangan terbatas. Pada 1922, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Karya Kartini ini juga sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dengan judul Ti Noe Poek Ka Nor Tjaan dan bahasa Jawa dengan judul Mboekak Pepeteng.
Habis Gelap Terbitlah Terang hanya memuat segelintir dari ratusan surat Kartini. Namun, dari tulisannya kita menjadi bisa lebih mengerti pergulatan pemikirannya dan bisa memahami mengapa ia pantas menyandar gelar pendekar bangsa.
Di abad ke 19, dimana ketika itu sebagian besar masyarakat Indonesia masih buta huruf, Kartini muncul sebagai perempuan yang begitu banyak menorehkan pemikirannya untuk bangsa Indonesia. Pemikirannya tentang peranan perempuan dalam keluarga dan masyarakat, Kegelisahannya tentang agama, dan penolakkannya terhadap budaya feodal tertoreh jelas pada tulisan Kartini dalam surat-suratnya.
Surat-surat Kartini untuk pertama kalinya diterbitkan pada 1911 di Semarang, Surabaya, dan Den Haag atas prakarsa Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr Jacques Henry Abendanon dengan judul Door Duisterni tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Volk van Raden Ajeng Kartini.
Karena berbahasa Belanda, surat-surat itu hanya dibaca kalangan terbatas. Pada 1922, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Karya Kartini ini juga sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dengan judul Ti Noe Poek Ka Nor Tjaan dan bahasa Jawa dengan judul Mboekak Pepeteng.
Habis Gelap Terbitlah Terang hanya memuat segelintir dari ratusan surat Kartini. Namun, dari tulisannya kita menjadi bisa lebih mengerti pergulatan pemikirannya dan bisa memahami mengapa ia pantas menyandar gelar pendekar bangsa.
Langganan:
Postingan (Atom)



